
antara hening dan denting
bingung,
membisu atau mengaku?
berpura-pura tenang padahal masih gamang
berlaku pintar padahal cuma menakar
“ada” atau “tiada”, memangkah berbeda?
bilakah “ada”, kenapa mereka tak melihatnya?
Kenapa tak ada yang mendengar rintihnya?
Bahkan tak pula mereka sadar bahwa ia sejatinya nyata?
Nyata sangat hingga mataku silau karena kilaunya,
Sampai kupingku penat karena rintihannya yang menyayat
Bahkan jiwa pun jengah karena derita yang mendarah
Duh, Gusti. Mungkinkah kami telah kehilangan hati untuk merasai, merabai dan mengakali segala peristiwa perih yang melanda negeri ini?
Busung lapar mewarnai layar kami pagi siang malam
Anak negeri kami putus pengharapan lantaran tak punya segepok uang
Para ayah terluka harga dirinya, tak mampu menafkahi keluarga hanya sebab tak punya ijazah tuk meminang pekerjaan
Balita kami kepayahan karena sakit “tak biasa” yang menguji hidupnya
Saudara kami merintih dalam nestapa kehilangan orang yang dikasihi karena bencana yang melimpahi tanah air kami
Kaki putra pertiwi “kapalan” lantaran lelah menyusuri jalan siang malam; terjebak dalam roda kemiskinan
Tanah, laut dan udara kami tak cantik lagi karena tangan-tangan setan yang berdalih ingin melindungi
Sementara para “tikus” negeri ini asyik mengerat harta kami
Terus mengais mempersiapi liang kubur kami sambil senyum sumringah menontoni
negeri yang perlahan sekarat karena ulah manusia yang tak lagi takut dengan ayat
Gusti Pangeran, hanya Engkau yang punya jawaban
Mau diapakan “tikus-tikus” yang sudah menjadi budak setan?